Contoh Cerpen Tentang Perasaan

Cerpen yang satu ini diambil dari pengalaman saya sendiri, jadi mohon maaf yah bila ceritanya biasa-biasa saja, hehe. Ini mengisahkan tentang ketidak beraniaan seseorang untuk berbicara kepada si dia, tapi di dalam hatinya terus terjadi pemberontakan, yang berakhir dengan? baca selengkapnya yah..

Senyuman Manis

Hari itu bus sekolah sudah menunggu untuk mengantarkan rombongan ke  suatu tempat. Rombongan itu berasal dari Sekolahku, yang sudah terbagi ke dalam beberapa kelompok. Kebetulan aku berada dalam kelompok 3.Setelah diadakan pengumuman, barulah kami masuk ke dalam bis masing-masing. Saat aku memasuki bus, ada temanku yang berkata."Lagunya NOAH nih.." Menurutku dia salah,"ini bukan lagunya NOAH, ini palsu."Berbagai lagu palsu aku dengarkan dan aku lihat liriknya di layar TV bus. Namun, setelah aku pahami lebih jauh, lirik tersebut sama seperti isi hatiku saat itu. Yaitu, mencoba ingin berbicara kepada seseorang, namun tidak berani. Seseorang yang dimaksud duduk tepat di depan sebelah kiri aku. Apa dia merasakan apa yang aku rasakan?
Foto asli



Tak terasa bus tersebut sudah sampai tujuan, aku dan semua rombongan diminta turun dari bus untuk melakukan kegiatan pembuatan keramik. Sebelum dimulai, diadakan penyuluhan lebih dulu. Di dalam kelompok 3 terbagi lagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu aku berada di kelompok 2. Disitu, seseorang yang tadi tidak satu kelompok denganku. Aku sempat merasa senang, saat mendengarkan penyuluhan. Karena tiba-tiba ada pergantian kelompok, dan aku satu kelomopok dengan dia. Tapi, kesenangan itu berlangsung beberapa menit saja, karena perbahan kelompok di batalkan, dan aku kembali lagi ke kelompok awal.Kesempatan untuk berbicara dengan dia hilang kembali. Akhirnya kegiatan dimulai, disela-sela kegiatan tersebut tak sengaja aku berpapasan dengan dia, langkah kakiku sempat terhenti dan kulihat wajahnya. Dalam hati, aku berkata "Bukan, ini bukan saat yang tepat, wajahnya terlihat murung." Melihat wajah dia yang murung, aku kembali tidak berbicara apapun ke dia.
Setelah kegiatan di tempat tersebut selesai, rombongan bus berlanjut ke tempat berikutnya. Dia masih duduk di tempat yang sama dengan tempat yang tadi. Tak hanya tempat duduk yang sama, keadaanpun masih sama. Ya, aku masih tidak dapat berbicara apapun kepadanya. Keadaan ini berlanjut, sampai kami  tiba di sebuah kolam renang yang terdapat taman juga. Rombongan bus kembali turun, saat didalam tempat wisata, salah seorang temanku berkata “Mau renang apa tidak?”. “Bentar deh, jalan-jalan dulu ke taman yang ada di atas”. Dengan perasaan yang bingung, aku dan beberapa temanku jalan-jalan di taman atas. Wow, ternyata seseorang yang tadi juga berada disana, dia sedang duduk dengan beberapa temanya. Kembali kulihat wajahnya, sama seperti tadi, dia terlihat murung, tapi kali ini berbeda, menurutku kali ini dia murung tapi terlihat manja, tapi dia tetap saja cantik, sepertinya dia ingin aku berbicara kepadanya. Tapi, aku kembali tidak berani berbicara, apakah aku ini pengecut? Aku lanjutkan saja jalan-jalan mengelilingi taman.
Ya, saat untuk pulang telah tiba, aku sudah berada didalam bus, sambil menunggu rombongan yang lain. Rintik hujan mulai turun, bus juga sudah mulai penuh, tapi kenapa dia tidak ada? Dimanakah dia? Apa dia terjebak hujan? Ini membuatku khawatir. Tak lama kemudian, rasa khawatir itu hilang, akhirnya dia datang, semakin lama dia terlihat semakin cantik saja. Tempat duduk diapun masih sama dengan yang tadi, walaupun aku terlihat diam, namun pikiran ini bekerja keras, untuk memikirkan akan berbicara apa kepadanya. Sempat terlintas dipikiranku, akan menanyakan tempat tinggalnya, kebetulan tempat tinggalnya juga dilewati oleh bus ini. Tapi, lagi-lagi tidak dapat berbicara. Apakah aku ini benar-benar pengecut? Aku tidak tahu. Daripada tidak dapat apa-apa, saya foto saja keadaan ini dari belakang untuk dijadikan kenangan. Ini sedikit mengobati perasaanku.Akhirnya bus sudah sampai di sekolah, tiba saatnya untuk berpisah dengannya. Aku bergegas untuk menyamakan langkah kakiku disamping dia, dan itu berhasil, ini membuatku sedikit lebih senang. Terlihat disana orangtuaku sudah menunggu, kuhampiri orangtuaku itu. Beberapa detik sebelum motor yang dinaiki ini melaju, aku menoleh ke samping kiriku. Apa yang terlihat? Sebuah senyuman manis dari seseorang yang tadi menghapiriku,  dengan reflek akupun membalas senyuman itu. Dalam hati, aku berkata “Bagi orang biasa, mungkin hal seperti ini biasa saja, tapi jika memiliki suatu perasaan kepdanya, ini akan terlihat sangat berkesan”.

Posting Komentar

1 Komentar